Director: Gabriele Muccino
Writer: Brad Desch (screenplay)
PLOT: Pasca kecelakaan
mobil yang mengakibatkan sang istri meninggal, seorang penulis terkenal, Jake Davis
yang divonis memiliki gangguan jiwa akibat kecelakaan tersebut kini harus
berjuang menjalani hidup dengan putrinya yang bernama Katie.
REVIEW:
Sepotoh
kisah yang menyentuh memang akan penonton jumpai dalam trailernya. Bahkan Judul
dan gaya poster yang digunakan sang director dapat memberikan sebuah gambaran
yang indah tentang kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. Maka diciptakanlah
sebuah kisah pembuka yang cukup dramatis dari seorang suami yang kehilangan
istrinya, dan putri kecil yang kehilangan ibunya. Suami dijadikan duda beranak
satu dan anak dijadikan yatim tanpa ibu.
Ekspektasi
sebagian besar penonton akan mengarah kepada sebuah film dengan makna yang
berharga, dimana mereka berharap dapat menonton film ini dengan Ayah mereka
masing-masing. Begitu juga dengan saya yang mengharapkan ayah saya duduk
disebelah bersamaku menyaksikan film ini. Lantas bagaimana dengan anda? Apakah anda
memiliki keinginan yang sama dengan saya? Jika tidak, maka beruntunglah anda.
Penuh
kehangatan cinta dan kasih sayang dari judul dan latar belakang kisah yang
ditawarkan, bukan berarti film ini sepenuh hati menggulirkan plot menjadi
kesatuan cerita yang berharga dan penuh makna akan cinta. Entah apakah Gabriele
Muccino hanya salah mengartikan sebuah judul film yang tengah ia kerjakan, atau
memang ia ingin melakukan eksperimen liar dengan menyentuhkan tiga unsur
penting cerita seperti Keluarga, Psikologi anak dan seks. Memang tidak ada materi
baru yang ditawarkan film ini, namun saya masih cukup menikmati setengah jam
awal film berjalan. Saya mengagumi akting Crowe sebagai seorang ayah, dan juga
akting Kyle Rogers sebagai young katie yang dimana setiap kali scene
mempertemukan mereka, suasana menjadi cukup indah untuk dilihat. Sebuah kasih
sayang antara ayah dan putrinya yang begitu dalam dan nyata selalu saya
dapatkan dari kedua mata Crowe. Namun keindahan itu tidak berjalan selamanya. Plot
kedua muncul, yaitu kisah ketika Katie sudah berusia 27 Tahun. Dalam plot ini,
100% kisah berubah menjadi Liar. Katie kecil yang pintar dan menyanyangi
ayahnya, berubah menjadi gadis maniak Seks yang memiliki ketakutan akan cinta. Bolehlah
jika hal ini terjadi karena sebuah trauma. Alasannya mungkin karena semua orang
(Ayah dan Ibu) yang Katie cintai pada akhirnya harus pergi dan tidak bisa
menjadi abadi untuk hidupnya, hingga katie mengalami ketakutan akan jatuh
cinta. Namun semua alasan itu tidak ada dalam plot. Apa yang diajarkan sang
ayah kepada Katie adalah kebaikan, bukan keburukan. Bahkan menurut saya
pribadi, jika memang wanita takut mencintai laki-laki, saya rasa seks bukanlah
prioritas mereka.
Meskipun
terlihat sedikit serius namun tetap mudah untuk diikuti, menggunakan 2 Plot
secara bergantian, sama sekali tidak membuat film ini menjadi lebih baik. Sebuah
film yang hanya terlihat indah diluar namun tidak didalam. Ini lebih tepatnya
disebut sebagai satu cara bagaimana mendramatisir sebuah film porno tentang
gadis maniak seks. Tentang gadis yang haus akan cinta satu malam.

Nonton Film Bokep Terbaru
ReplyDelete