Director: Alejandro González
Iñárritu (as Alejandro G. Iñárritu)
Writers: Mark L. Smith (screenplay), Alejandro González
Iñárritu (screenplay) (as Alejandro G. Iñárritu) ,1
more credit »
PLOT: Sebuah
ekspedisi perdagangan bulu pada tahun 1820 yang berubah menjadi sebuah
perkelahian untuk bertahan hidup dari seorang pria bernama Hugh Glass yang
tubuhnya hancur setelah melawan beruang dan ditinggal untuk mati ditengah hutan
oleh kelompok berburunya sendiri.
REVIEW:
Seluruh nafas ini menjadi korban dari sakitnya
perjuangan hidup yang tak bisa dibendung. Sebuah film yang menyatukan dinginnya
alam dan segarnya darah dalam kisah nyata yang sangat mengagumkan. Leonardo Dicaprio
berada dibarisan terdepan memainkan karakter yang harus disiksa habis-habisan
untuk dapat bertahan hidup dan membalaskan seluruh dendam yang ada di hatinya. Sementara
Tom Hardy menjadi karakter utama yang paling dibenci disepanjang plot.
Jika memang kualitas akting terbaik Leo disini sudah
diakui oleh penonton di seluruh dunia, maka yang menjadi pertanyaan keras saya
disini adalah? “Bagaimana bisa ia mampu menyelesaikan semua tantangan yang
diberikan Innaritu dengan begitu nyata dan sangat cemerlang”. Saya melihat
matanya berkaca-kaca dan bibirnya terkunci atas kematian sang anak di depan
matanya. Saya merasakan sakitnya cabikan beruang yang berusaha menghancurkan
seluruh tubuhnya. Saya juga merasakan nikmatnya menyantap daging mentah di
musim dingin yang ekstrim. Leo memang bekerja di luar zona nyamannya. Plot memberinya
sedikit dialog dan mengharuskan menyeret tubuhnya yang mati rasa di alam
ekstrim yang sangat terbuka.
Kita telah mengenal Alejandro G. Inarritu, Yap!! A mexican film director yang tahun
lalu film nya sukses meraih Best Piture di Academy Awards. Kita juga kenal siapa
itu Emmanuel Lubezki, Sang Sinematografer yang dua tahun terakhir secara
berturut-turut dinobatkan sebagai best cinematographer di Oscar berkat
kemegahan karyanya menghadirkan sinetografi terbaik dalam Gravity dan Birdman. Kini
mereka berdua kembali secara konsisten mempersembahkan sebuah film yang
benar-benar memanjakan mata lewat landscape alam dingin yang ekstrim.
Innaritu bermain dengan pencahayaan, pengaturan desain,
visual effect dan audio yang sempurna, membuat banyak adegan berhasil
ditampilkan secara intens dan membuat penontonnya nyilu luar dan dalam. Seperti
salah satu contoh sukses adegan
pertarungan Glass melawan beruang menjadi salah satu babak paling mendebarkan
disepanjang durasi. Sementara tangan magis Lubezki kembali bermain dengan
menghadirkan gaya pengambilan gambar berdurasi panjang dengan sangat
mengagumkan dan apa yang terjadi dilayar sungguh amat snagat natural. Maka ketika
ia menyatukan seluruh potongan adegan sempurnanya itu, terbentuklah sebuah
sinematografi yang sangat memanjakan mata dan mendekatkan mata penontonnya
dengan seluruh adegan yang terjadi di layar. Jadi pantas saja jika banyak yang
menyebut mereka berdua adalah masterclass dalam menghadirkan film yang naturalistic.
Membuat The Revenant memiliki semuanya untuk menang di Academy
Award tahun ini. Selamat Innaritu, film anda 100% FILM bagi saya.

No comments:
Post a Comment